METODE PEMBELAJARAN INTERAKTIF
A. Batasan Pendekatan, Strategi, Metode, Teknik, Taktik, dan Model
Pembelajaran
Ada beberapa istilah dalam pembelajaran
yang perlu untuk dibedakan batasan atau pengertiannya, yaitu: pendekatan,
strategi, metode, teknik, taktik, dan model pembelajaran. Masing- masing
istilah tersebut memiliki batasan yang berbeda. Pendekatan pembelajaran menurut
Sanjaya (2009: 127) adalah suatu titik tolak atau sudut pandang mengenai
terjadinya proses pembelajaran secara umum berdasarkan cakupan teoritik
tertentu. Pendekatan pembelajaran dibagi menjadi dua yaitu student centered approach „pendekatan
yang berpusat pada siswa‟ dan teacher centered approach „pendekatan yang
berpusat pada guru‟.
Level dibawah pendekatan pembelajaran yaitu strategi
pembelajaran. Strategi menurut David (melalui Sanjaya, 2009: 126) adalah a plan, method, or series of activities
designed to achieves a particular educational goal. Batasan tersebut
menjelaskan strategi adalah suatu perencanaan yang berisi metode, atau
serangkaian kegiatan yang didesain untuk mencapai suatu tujuan pendidikan.
Berdasarkan pendapat tersebut dapat
dijelaskan bahwa strategi dalam konteks pembelajaran melibatkan guru dan siswa.
Guru dalam hal ini berperan menentukan target, kualifikasi hasil, dan merancang
langkah-langkah. Dengan demikian strategi pembelajaran adalah suatu perencanaan
proses suatu kegiatan yang harus dikerjakan guru dan siswa agar tujuan
pembelajaran dapat tercapai secara efektif dan efisien.
Strategi pembelajaran menurut Rowntree (melalui
Sanjaya, 2008: 128) terdiri dari dua jenis, yaitu: (1) exposition-discovery learning,
dan (2) group- individual learning. Exposition-discovery learning pada dasarnya terdiri
dari dua strategi yang berbeda, yaitu strategi penyampaian atau ekspositori;
dan discovery learning yang
berupaya pada pembelajaran penemuan.
Strategi exposition
„ekspositori‟ adalah strategi
pembelajaran langsung (direct instruction) dengan
menyajikan materi pelajaran yang sudah jadi dan siswa
diharapkan menguasai secara penuh. Strategi ekspositori menempatkan guru
sebagai penyampai informasi. Berbeda dengan strategi discovery, dimana siswa mencari dan menemukan materi pelajaran
sendiri melalui berbagai aktivitas. Tugas guru dalam strategi discovery yaitu guru sebagai fasilitator
dan membimbing siswa dalam pembelajaran. Strategi discovery disebut juga strategi pembelajaran tidak langsung.
Strategi group-individual learning merupakan
strategi pembelajaran kelompok dan strategi pembelajaran individual. Strategi
pembelajaran individual adalah perancangan aktivitas belajar mandiri bagi
siswa. Kemampuan individu menentukan tingkat kecepatan keberhasilan penguasaan
materi pembelajaran. Materi pembelajaran disajikan atau didesain untuk belajar
sendiri, seperti halnya modul pembelajaran. Adapun strategi pembelajaran
kelompok yaitu menyajikan pembelajaran dalam bentuk klasikal atau siswa belajar
dalam kelompok-kelompok kecil. Strategi ini menempatkan siswa sebagai individu
yang sama.
Strategi pembelajaran ditinjau dari cara
menyajikan materi dapat dibagi dua, yaitu: (a) strategi pembelajaran deduktif;
dan (b) strategi pembelajaran induktif. Strategi pembelajaran deduktif berupaya
menyajikan materi secara umum ke khusus, atau dimulai dari hal-hal yang abstrak
menuju ke hal- hal konkret. Adapun strategi induktif menyajikan materi yang
konkret selanjutnya diarahkan pada materi yang kompleks, atau dimulai dari hal
khusus menuju ke hal umum.
Level dibawah strategi pembelajaran
yaitu metode pembelajaran. Metode pembelajaran menurut Sanjaya (2008: 187)
adalah cara yang dapat digunakan untuk melaksanakan strategi pembelajaran.
Berdasarkan pendapat tersebut dapat dijelaskan bahwa metode merupakan upaya
yang digunakan untuk mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam
kegiatan nyata untuk mencapai tujuan pembelajaran. Metode digunakan untuk
merealisasikan strategi yang telah ditentukan. Penerapan satu strategi
pembelajaran memungkinkan untuk diterapkannya beberapa metode pembelajaran.
Sebagai contoh penerapan strategi
discovery dapat digunakan: metode jigsaw, metode mind- mapping, metode
example- non
example, metode problem- solving, dsb.
Level dibawah metode pembelajaran yaitu
teknik pembelajaran. Teknik adalah cara yang dilakukan seseorang dalam rangka
mengimplementasikan suatu metode dengan memperhatikan situasi dan kondisi yang
spesifik. Misalnya, penerapan metode problem-solving pada kelas yang jumlah siswanya
sedikit membutuhkan teknik tersendiri, berbeda dengan penerapan metode problem- solving dengan jumlah siswa yang banyak. Dengan demikian penggunaan
metode yang sama pada siswa dengan kondisi yang berbeda akan memberikan teknik
yang berbeda pula.
Level dibawah teknik pembelajaran adalah
taktik pembelajaran. Taktik pembelajaran adalah gaya seseorang dalam
melaksanakan metode atau teknik pembelajaran tertentu yang sifatnya individual.
Adapun contoh penerapan taktik pembelajaran yaitu seorang guru pada saat
menyampaikan materi sering memberikan motivasi dengan menceritakan pengalaman
kesuksesan orang-orang besar, sesekali disertai dengan humor. Ada juga guru
yang lebih suka menggunakan alat bantu elektronik untuk menarik minat belajar siswa,
karena dia memang menguasai bidang tersebut. Taktik pembelajaran bersifat
individual, sesuai dengan kemampuan, pengalaman, dan tipe kepribadian dari guru
yang bersangkutan.
Berbagai istilah pembelajaran seperti:
pendekatan, strategi, metode, teknik,
dan taktik pembelajaran apabila menjadi satu kesatuan utuh, maka akan
terbentuklah suatu model pembelajaran. Model pembelajaran menurut
Mulyatiningsih (2011: 211) merupakan suatu istilah yang digunakan untuk
menggambarkan penyelenggaraan proses belajar mengajar dari awal sampai akhir.
Model pembelajaran mencerminkan penerapan suatu pendekatan, strategi, metode, teknik, ataupun taktik pembelajaran
secara sekaligus untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan. Berdasarkan
paparan tersebut dapat ditegaskan bahwa model pembelajaran berisi unsur tujuan,
tahap-tahap kegiatan, setting pembelajaran,
kegiatan guru dan siswa, perangkat pembelajaran (sarana, bahan, dan alat yang diperlukan), hasil pembelajaran yang akan dicapai
sebagai akibat
proses belajar mengajar. Perancangan model pembelajaran
hampir sama dengan penyusunan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) yang
lengkap dengan perangkatnya.
Adapun diagram alir sebagai gambaran
secara hierarkis model pembelajaran, pendekatan, strategi, metode, teknik, dan
taktik pembelajaran dapat dicermati sebagai berikut:
Diagram 1: Model
Pembelajaran

Adapun pengelompokkan model pembelajaran
menurut Mulyatiningsih (2011: 214) dipilah menjadi 4 kategori, yaitu: (1) model
pengolahan informasi, (2) model personal, (3) model sosial, dan (4) model
sistem perilaku.
Seiring perkembangan zaman model
pembelajaran sekarang juga telah berkembang. Hal tersebut ditunjukkan dengan
adanya model pembelajaran PAKEM (Pembelajaran Aktif Kreatif Efektif dan
Menyenangkan), kemudian berkembang menjadi PAIKEM (Pembelajaran Aktif Inovatif
Kreatif Efektif dan Menyenangkan). Selain itu sekarang juga marak dikembangkan
model pembelajaran dari Jepang yaitu lesson
study. Lesson study merupakan
suatu upaya meningkatkan profesionalitas guru dengan mengamati praktik mengajar
mereka sendiri dibantu oleh teman sejawatnya agar pembelajaran menjadi lebih
efektif.
B. Pemilihan dan Manfaat Metode Pembelajaran
Kegiatan pembelajaran agar dapat
mencapai tujuan dengan efektif dan efisien dilaksanakan berdasarkan perencanaan
pembelajaran yang tertuang dalam RPP. Kenyataan yang terjadi terkadang tidak
seratus persen berhasil. Ada beberapa faktor yang mempengaruhinya, antara lain:
1.
Faktor guru, dalam hal ini
berkaitan dengan keterampilan mengajar, mengelola tahapan pembelajaran, dan
memanfaatkan metode serta media pembelajaran
2.
Faktor siswa, berkaitan dengan
karakteristik siswa baik secara umum maupun khusus atau personal
3.
Faktor kurikulum, berkaitan dengan
rumusan tujuan pembelajaran (Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar) dan
pengorganisasian isi pelajaran
4.
Faktor lingkungan, perlu
diperhatikan lingkungan fisik dan non fisik yang menunjang situasi interaksi
belajar mengajar secara optimal.
Berdasarkan paparan tersebut dapat ditegaskan
bahwa guru memiliki peranan penting dalam mewujudkan pembelajaran yang efektif
dan efisien. Salah satunya guru harus mampu memilih metode yang sesuai agar
tujuan pembelajaran dapat tercapai. Adapun beberapa hal yang perlu diperhatikan
dalam memilih metode, yaitu:
1.
Tujuan pembelajaran, selain
kompetensi sesuai bidang studi juga perlu dikembangkan
pendidikan karakter
2. Karakteristik materi pembelajaran
3. Jenis/bentuk kegiatan
4. Ukuran kelas
5. Kepribadian dan
kemampuan guru
6. Karakteristik siswa
7. Waktu
8. Sarana dan prasarana
yang tersedia.
Apabila guru dapat menerapkan metode
dengan tepat maka pembelajaran yang berlangsung akan mendapatkan beberapa
manfaat. Adapun manfaat penggunaan metode yang tepat dalam pembelajaran adalah
sebagai berikut:
1.
Mengarahkan proses pembelajaran pada tujuan pembelajaran
2.
Menghilangkan dinding pemisah guru-siswa
3.
Menggali dan memanfaatkan potensi siswa secara
optimal
4.
Menjalin kemitraan
guru-siswa
5.
Mempermudah penyerapan informasi
6.
Suasana menyenangkan “fun”
7.
Memberikan kesempatan siswa untuk belajar secara optimal.
Pembelajaran yang optimal dapat
diciptakan oleh guru dengan memfasilitasi siswa untuk memiliki aktivitas
pengalaman. Aktivitas pengalaman membantu siswa membuat siswa mampu untuk
belajar aktif. Suprayekti (2003:
35) menyatakan ada 10 langkah yang perlu diperhatikan untuk
memfasilitasi aktivitas pengalaman, yaitu:
1.
Jelaskan tujuan pembelajaran
2.
Kemukakan nilai positif, manfaat,
dan keuntungan dari hal yang akan dipelajari.
3.
Berikan pengarahan dengan jelas
4.
Demonstrasikan aktivitas jika petunjuk dirasa sulit
5.
Jika memungkinkan buatlah pembejaran kooperatif
dalam bentuk kelompok
6.
Informasikan penggunaan waktu
7.
Bimbing dan jagalah agar aktivitas tetap berjalan
8.
Siswa perlu dimotivasi atau jika perlu diberi tantangan
9.
Guru selalu memantau aktivitas, dan setiap tahap
didiskusikan dengan siswa
10. Tegaskan dan
simpulkan proses pengalaman siswa
Proses pembelajaran agar dapat berjalan
dengan lancar memerlukan keahlian dalam mengelola pembelajaran. Sukarman (2003:
11) menyatakan bahwa guru dalam mengelola pembelajaran harus memenuhi azas-azas
dedaktik, yaitu:
1.
Azas apersepsi: suatu pengantar
untuk mempermudah pemahaman materi dengan mengaitkan pengalaman atau konseptual
yang telah dimiliki siswa.
2.
Azas peragaan: konsep akan mudah
dipahami jika siswa aktif memanipulasi benda konkrit dan semi konkrit sebagai
model representasi dari konsep abstrak.
3.
Azas motivasi: guru harus mampu
mendorong siswa untuk melakukan sesuatu demi suksesnya tujuan pembelajaran. Hal
ini dapat ditempuh dengan cara: memberikan nilai pancingan, hadiah atau
penghargaan, menumbuhkan rasa sukses, menciptakan kerjasama antar siswa,
membangun suasana kelas yang menyenangkan, dan menunjukkan nilai positif
ataupun manfaat hal yang dipelajari.
4.
Azas belajar aktif: guru
mengarahkan pembelajaran yang berpusat pada siswa atau student centered. Kesuksesan suatu pembelajaran melibatkan
keaktifan mental baik intelektual maupun emosional.
5.
Azas kerjasama: belajar dengan
bekerjasama antar siswa merupakan satu pemenuhan individu sebagai makhluk
sosial. Belajar melalui kerjasama menciptakan keaktifan siswa untuk memberi dan
menerima pendapat, sehingga siswa dapat berlajar antar teman sebaya.
6.
Azas mandiri: guru harus mampu
memfasilitasi siswa untuk belajar sebagai individu dengan berbagai karakter
yang berbeda.
7.
Azas korelasi: guru mengaitkan
suatu pokok bahasan dengan pokok bahasan lain, serta menunjukkan manfaatnya
dalam kehidupan nyata.
8.
Evaluasi yang teratur: keberhasilan
proses pembelajaran yang ditunjukkan dengan kinerja siswa dalam belajar perlu
dievaluasi secara teratur dan berkesinambungan selama dan setelah proses
pembelajaran berlangsung.
C.
Jenis- jenis Metode Pembelajaran
Metode pembelajaran dalam rangka
aplikasi suatu model pembelajaran harus disesuaikan dengan tujuan yang akan
dicapai. Penerapan sebuah model pembelajaran memungkinkan digunakannya metode
pembelajaran lebih dari satu. Adapun jenis- jenis metode pembelajaran dapat
dicermati pada paparan berikut.
1. Metode Ceramah
Ceramah merupakan metode pembelajaran
yang konvensional. Ceramah jika terlalu sering digunakan tidak akan efektif.
Menurut Suprayekti (2003: 32) metode ceramah perlu diperbaiki dalam
penerapannya dengan cara: (a)
membangun daya tarik, (b) memaksimalkan pengertian dan
ingatan, (c) melibatkan siswa, dan (d) memberikan penguatan.
Cara untuk membangun minat siswa pada
saat guru menerapkan metode ceramah, yaitu: (a) guru mengemukakan cerita atau
visual yang menarik, seperti: anekdot, cerita fiksi, kartun, atau media visual
yang menarik siswa; (b) kemukakan suatu problem; (c) kemukakan nilai positif
dan manfaat; dan (d) berikan pertanyaan yang memotivasi siswa untuk memiliki
rasa ingin tahu.
Metode ceramah dalam penerapannya perlu
memaksimalkan pemahaman dan ingatan. Adapun cara yang dapat ditempuh untuk
memaksimalkan pemahaman dan ingatan, yaitu: (a) memberikan headlines dan kata kunci; (b) kemukakan contoh dan analogi; dan (c)
gunakan media pembelajaran atau minimal alat bantu visual. Agar siswa tidak
pasif, maka penerapan metode ceramah perlu melibatkan peserta didik. Hal
tersebut salah satunya dapat ditempuh dengan memberikan tantangan spot. Tantangan spot adalah penghentian ceramah secara periodik disertai dengan
memberikan tantangan kepada siswa untuk memberikan contoh dari konsep yang
disajikan. Selain penggunaan tantangan spot,
pemberian latihan-latihan juga dapat melibatkan siswa dalam ceramah.
Latihan-latihan yang diberikan diarahkan untuk memperjelas point-point yang
telah disampaikan dalam cermah.
Materi yang disampaikan melalu metode
ceramah mudah terlupakan. Kondisi tersebut perlu diatasi dengan memberikan daya
penguat ceramah. Adapun cara untuk memberikan daya penguat dalam metode
ceramah, yaitu: aplikasi masalah dan review.
Aplikasi masalah adalah pemberian masalah atau pertanyaan pada siswa untuk
diselesaikan dengan memanfaatkan informasi yang diberikan pada saat ceramah.
Selain itu, penguatan dapat diberikan dengan memberikan review. Review dalam
hal ini siswa diminta mengulas ceramah yang telah disampaikan.
2.
Metode Tanya- Jawab
Metode tanya- jawab juga merupakan
metode pembelajaran konvensional. Metode tanya- jawab digunakan guru untuk
mengetahui tingkat pemahaman peserta didik terhadap suatu masalah. Menurut
Mulyatiningsih (2011: 224) ada
tiga pertanyaan yang perlu untuk diketahui dalam menyampaikan
materi pembelajaran, yaitu: (a) pertanyaan terfokus, (b) prompting questions, dan (c) probing
question.
Pertanyaan terfokus adalah pertanyaan
yang hanya digunakan untuk mengetahui perhatian atau pemahaman peserta didik
pada topik yang dipelajari. Prompting
question adalah pertanyaan yang menggunakan isyarat (hint) dan petunjuk (clues)
sebagai alat peserta didik dalam mengingat jawaban. Prompting question juga diterapkan untuk membantu peserta didik
menjawab pertanyaan dengan menyebutkan huruf atau kata awalnya. Adapun probing questions adalah pertanyaan yang
digunakan untuk mencari klarifikasi dan mengarahkan peserta didik agar menjawab
pertanyaan lebih lengkap lagi.
3. Metode Resitasi
Metode resitasi biasanya digunakan untuk
mendiagnosis kemajuan belajar peserta didik. Resitasi diterapkan dengan
menggunakan pola yaitu guru bertanya, peserta didik memberikan respon, lalu
guru memberikan reaksi. Resitasi menurut Gage dan Berliner (melalui
Mulyatiningsih, 2011: 225) umumnya digunakan dalam review, pengantar materi
baru, mengecek jawaban, praktik, dan mengecek pemahaman peserta didik terhadap
materi pelajaran dan ide-idenya.
4.
Metode Praktik dan Drill
Metode praktik dilakukan setelah materi
dipelajari atau guru memberikan demonstrasi. Metode drill digunakan ketika peserta didik diminta mengulang informasi
pada topik-topik khusus sampai dapat menguasai topik-topik yang diajarkan.
Metode praktik dan drill disebut juga
metode praktik dan latihan. Metode tersebut diarahkan pada pengulangan
(repitisi) untuk membantu peserta didik memiliki pemahaman yang lebih baik dan
mudah mengingat kembali informasi yang sudah disampaikan.
5.
Metode Diskusi
Metode diskusi merupakan metode
pembelajaran yang mengarahkan pembelajaran untuk berpusat pada siswa.
Pencapaian kompetensi pada mata pelajaran teori sering menggunakan metode
diskusi supaya peserta didik aktif dan memperoleh pengetahuan berdasarkan hasil
temuannya sendiri. Beberapa metode
diskusi yang memberikan peluang untuk menciptakan suasana
aktif dan menyenangkan sebagai berikut.
a.
Panel
Metode panel menurut Hadisoewito (2009:
30) adalah cara pembelajaran yang melibatkan perwakilan beberapa ahli untuk
mendiskusikan suatu permasalahan yang dihadapi peserta. Beberapa hal yang perlu
diperhatikan dalam penggunaan metode panel yaitu:
1)
Para panelis harus membahas permasalahan sesuai
dengan keahliannya
2)
Mendiskusikan keterkaitan pembahasannya dengan
panelis lainnya
3)
Peserta diskusi panel harus
mempersiapkan wawasan untuk memecahkan masalah
4)
Peserta diskusi panel harus memberikan tanggapan
atau pertanyaan
5)
Peserta harus dapat menghormati pendapat orang lain.
b.
Metode Debat
Metode debat adalah cara belajar yang dilakukan melalui
diskusi terbuka dengan membahas topik masalah yang kontroversial. Tujuan metode
debat yaitu untuk memperoleh pandangan atau pendapat yang berlainan mengenai
suatu isyu atau topik kontroversial. Metode tersebut memberikan kesempatan
kepada siswa untuk melatih berfikir logis dan sistematis.
c.
Metode Simposium
Metode simposium menurut Hadisoewito
(2009: 32) mengetengahkan suatu sari ceramah mengenai berbagai kelompok topik
dalam bidang tertentu. Ceramah tersebut diberikan oleh beberapa ahli. Pendapat
tersebut menegaskan bahwa simposium adalah cara pembelajaran yang dilakukan
dengan pengungkapan serangkaian cermah-ceramah yang disampaikan oleh sejumlah
pembicara sesuai dengan keahliannya.
6.
Metode Jigsaw
Metode jigsaw pada dasarnya merupakan
metode diskusi kelompok. Adapun langkah-langkah metode jigsaw, yaitu: (a) siswa
dikelompokkan ke dalam tim, dimana satu
tim terdiri atas 5-6 siswa; (b) tiap orang dalam tim diberi bagian materi
yang berbeda; (c) tiap orang dalam tim diberi bagian materi yang
ditugaskan; (d) anggota dari tim yang berbeda yang telah
mempelajari bagian/sub bab yang sama bertemu dalam kelompok baru (kelompok
ahli) untuk mendiskusikan sub bab mereka; (e) setelah selesai diskusi sebagai
tim ahli tiap anggota kembali ke kelompok asal dan bergantian mengajar teman
satu tim mereka tentang sub bab yang mereka kuasai dan tiap anggota lainnya
mendengarkan dengan sungguh-sungguh; (f) tiap tim ahli mempresentasikan hasil
diskusi; dan (g) guru memberi evaluasi dan penutup.
7.
Metode Investigasi
Metode investigasi dapat dilakukan
secara kelompok maupun individu. Metode ini dilakukan dengan cara melibatkan
peserta didik dalam kegiatan investigasi suatu penelitian atau penyelidikan.
Adapun cara menerapkan metode investigasi yaitu: (a) mengidentifikasi apa saja
yang akan diinvestigasi; (b) merancang cara melakukan investigasi; (c)
memerinci dan menyiapkan alat-alat yang diperlukan; (d) melakukan investigasi;
dan (e) melaporkan hasil investigasi secara sistematis. Metode investigasi
melatih kemampuan menulis laporan, keterampilan berkomunikasi, dan bekerjasama
dalam kelompok.
8. Metode Inqury (Penemuan)
Metode inquiry adalah metode yang melibatkan peserta didik dalam proses
pengumpulan data dan pengujian hipotesis (Mulyatiningsih, 2011: 219). Guru
membimbing peserta didik untuk menemukan pengertian baru, mengamati perubahan
pada praktik uji coba, dan memperoleh pengetahuan berdasarkan pengalaman
belajar mereka sendiri. Metode ini memberikan kesempatan pada siswa untuk
belajar secara aktif dan kreatif dalam mencari pengetahuan.
9e . MetodPemecahan Masalah (Problem Solving)
Metode problem solving merupakan metode yang potensial untuk melatih
pesera didik berpikir kreatif dalam rangka memecahkan masalah yang dihadapi
secara individu maupun kelompok. Nasution (2010: 140) menyatakan bahwa suatu
kesuksean memecahkan masalah melalui problem
solving sulit untuk dilupakan. Kemampuan memecahkan masalah memperbesar
kemampuan untuk memecahkan masalah yang lain.
Adapun prosedur pelaksanaan metode problem solving, yaitu: (a)
mengidentifikasi penyebab masalah; (b) mengkaji teori untuk menemukan solusi;
(c) memilih dan menetapkan solusi yang tepat; (d) menyusun
prosedur mengatasi masalah; (e) melaksanakan solusi; dan (f) melaporkan hasil
tugas.
10. Metode Mind
Mapping ‘Pemetaan Pikiran’
Metode mind mapping adalah metode pembelajaran dengan cara meringkas bahan
yang perlu dipelajari, dan memproyeksikan masalah yang dihadapi ke dalam bentuk
peta atau grafik sehingga lebih mudah memahaminya (Sugiarto, 2004: 75).
Selanjutnya Buzan (2002: 79) menyatakan bahwa mind mapping dapat mendorong peserta didik untuk mencatat hanya
dengan menggunakan kata kunci dan gambar.
Adapun langkah-langkah menerapkan metode
mind mapping yaitu: (a) guru
menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai; (b) guru mengemukakan
konsep/permasalahan yang akan ditanggapi oleh siswa/sebaiknya permasalahan yang
mempunyai alternatif jawaban; (c) membentuk kelompok yang anggotanya 2-3 orang;
(d) tiap kelompok menginventarisasi/mencatat alternatif jawaban hasil diskusi;
(e) tiap kelompok (atau diacak kelompok tertentu) membaca hasil diskusinya dan
guru mencatat di papan dan mengelompokkan sesuai kebutuhan guru; dan (f)
berdasarkan data-data di papan siswa diminta membuat kesimpulan.
11.
Metode Student Team- Achievement Devisions (STAD)
Metode STAD menurut Arends (2008: 13)
dikembangkan oleh Robert Slavin sebagai aplikasi pendekatan cooperative learning yang paling
sederhana. Metode STAD merupakan kombinasi dari metode ceramah, questioning,
dan diskusi. Adapun langkah-langkahnya, yaitu: (a) membentuk kelompok yang terdiri dari 4 peserta didik bersifat
heterogen; (b) guru menyajikan materi, siswa menyimak; (c) guru memberi tugas
kelompok, siswa yang mengetahui menjelaskan kepada teman-temannya; (d) guru
kemudian memberikan tugas pada seluruh siswa, dan pada saat menjawab soal sesama
anggota kelompok tidak boleh
membantu;
(e) guru memberikan penilaian kelompok dari jumlah nilai yang terkumpul dari
semua anggota kelompok; dan (f) guru memberikan evaluasi.
12.
Team- Game- Tournament (TGT)
Metode TGT memiliki yang hampir sama
dengan STAD. Metode TGT menurut Mulyatiningsih (2011: 229) melibatkan aktivitas
peserta didik tanpa perbedaan status, dengan tutor teman sebaya, dan mengandung
unsur permainan dan penguatan. Adapun langkah- langkah TGT, yaitu: (a) guru
menyajikan materi dengan ceramah dan tanya jawab; (b) pembentukkan kelompok
dengan anggota 4- 5 siswa yang
heterogen; guru memberikan tugas untuk belajar bersama dalam kelompok; (c) guru
memberikan permainan berupa pertanyaan dimana siswa dapat memilih sesuai dengan
nomor yang dikehendaki; (d) guru memberikan kompetisi atau turnamen setiap
selesai satu materi ajar; dan (e) guru memberikan penghargaan pada kinerja
kelompok yang paling baik.
13. Metode Numbered
Heads Together
Metode Numbered Heads Together merupakan metode pembelajaran diskusi
kelompok yang dilakukan dengan cara memberi nomor kepada semua peserta dan kuis
untuk didiskusikan. Diskusi dilakukan dengan cara memanggil nomor secara acak
untuk melaporkan hasil diskusi kelompok di depan kelas. Peserta didik dari
kelompok lain memberikan tanggapan kepada peserta yang melaporkan. Selanjutnya
guru memanggil nomor peserta dari kelompok lain.
14.
Metode Make- A Match (Mencari Pasangan)
Metode Make- A Match merupakan metode pembelajaran yang dilaksanakan secara berpasangan, misalnya pasangan antara soal dengan jawaban. Adapun langkah-langkah pembelajarannya, yaitu: (a) guru menyiapkan beberapa kartu yang berisi beberapa konsep atau topik yang cocok untuk sesi review, sebaliknya satu bagian kartu soal dan bagian lainnya kartu jawaban; (b) setiap siswa mendapat satu buah kartu; (c) tiap siswa memikirkan jawaban/soal dari kartu yang dipegang; (d) setiap siswa mencari pasangan yang mempunyai kartu yang cocok dengan kartunya (soal jawaban); (e) setiap siswa yang dapat mencocokkan kartunya sebelum batas waktu diberi poin; (f) setelah satu babak kartu dikocok lagi agar tiap siswa mendapat kartu yang berbeda dari sebelumnya, dan (g) demikian seterusnya.
15. Metode Think
Pair and Share
Metode think pair and share timbul dari penelitian tentang cooperative learning dan wait-time
(Arends, 2008: 15). Metode think pair
and share merupakan metode pembelajaran yang dilakukan dengan cara sharing pendapat siswa. Metode ini dapat
digunakan sebagai umpan balik materi yang diajarkan guru. Adapun langkah-
langkahnya yaitu: (a) thinking: guru menyampaikan isu atau
pertanyaan mengenai materi dan kompetensi yang ingin dicapai; (b) siswa diminta
untuk berfikir tentang materi/permasalahan yang disampaikan guru; (c) pairing:
siswa diminta berpasangan dengan teman sebelahnya (kelompok 2 orang) dan
mengutarakan hasil pemikiran masing-masing; (d) sharing: tiap kelompok
mengemukakan hasil diskusinya; (e) guru mengarahkan pembicaraan pada pokok
permasalahan dan menambah materi yang belum diungkapkan para siswa; dan (f)
guru memberi kesimpulan.
16. Metode Role
Playing ‘Bermain Peran’
Metode bermain peran dilakukan dengan
cara mengarahkan peserta didik untuk menirukan aktivitas atau mendramatisasikan
situasi, ide, ataupun karakter khusus. Guru menyusun dan memfasilitasi bermain
peran kemudian ditindaklanjuti dengan diskusi. Metode ini digunakan untuk
membantu peserta didik memahami perspektif dan perasaan orang lain menurut
variasi kepribadian dan isu sosial. Penerapan metode ini berdasarkan skenario
yang harus diberikan pada peserta didik untuk dipahami agar dapat bermain peran
dengan baik.
0 komentar:
Posting Komentar